Search

Selasa, 26 Juli 2016

LAPORAN KUNJUNGAN INDUSTRI PT MADU BARU ( PG/PS MADUKISMO )

LAPORAN KUNJUNGAN INDUSTRI
PT MADU BARU ( PG/PS MADUKISMO )


DISUSUN OLEH :
FATWA SABILLA SOFYANY
15/8902
2TPHP2


PEMERINTAH KABUPATEN TEMANGGUNG
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

SMK NEGERI 1 (STM PEMBANGUNAN) TEMANGGUNG
JL. KADAR MARON KOTAK POS 104 TEMANGGUNG 56221
Telp/Fax : (0293) 4901 639

TAHUN PELAJARAN 2015/2016

LEMBAR PENGESAHAN


            Laporan ini dibuat untuk memenuhi tugas mata pelajaran Pengolahan Hasil Perkebunan dan Mesin Pengolahan Hasil Pertanian tahun pelajaran 2015/2016.Kunjungan dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 15 Oktober 2015 di PT.Madu Baru, Bantul, Yogyakarta.  


Mengetahui,
Waka Humas/Hubungan Industri


Fatoni, SE
NIP. 196302121987031016


Mengetahui,
Guru pembimbing



Mata Pelajaran

Mesin Pengolahan Hasil Pertanian




Drs. Suharjana, M.Pd
NIP. 196309121988031010


Mata Pelajaran
Produksi Hasil Perkebunan



Afni Fitriyana
NIP.




 

KATA PENGANTAR



Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan karunianya sehingga laporan kunjungan industri ke Yogyakarta dapat kami susun. Kami menyusun laporan ini sebagai tugas laporan kunjungan industri di Bantul, Yogyakarta yaitu “PT. MADU BARU”
Dalam kunjungan ini kami banyak memperoleh informasi tantang semua proses produksi cara pembuatan gula dan spirtus di PT MADU BARU tersebut.
Laporan ini kami buat sedemikian rupa agar dapat dimengerti oleh para pembaca khususnya untuk semua siswa kelas I, II, III, IV dan buat guru yang ingin menambah wawasan tetang  pembuatan gula dan spirtus yang tentunya sudah kami cantumkan dalam penyusunan laporan ini.
Akhirnya kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran dalam penyusunan laporan kunjungan ini dan terimakasih pula kepada para guru yang telah memonitori kami dalam menyusun laporan ini.
Dan mohon maaf bila dalam penulisan terdapat hal-hal yang kurang berkenan.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Temanggung, 15 Oktober 2015


Penyusun


DAFTAR ISI





BAB I            PENDAHULUAN


 

A.   LATAR BELAKANG

Kunjungan industri dilaksanakan untuk menambah pengalaman dan pengetahuan siswa tentang dunia kerja. Sehingga siswa dituntut aktif untk menggali informasi tentang kunjungan industri untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi baru tentang produk yang dihasilkan dari setiap tempat usaha yang dikunjungi. Kunjungan industri dilakukan untuk memberikan gambaran tentang tempat industri dan proses produksi kepada siswa. Sehingga siswa dapat membandingkan proses produksi di dunia kerja dengan ilmu yang diperoleh di sekolah. Kemudin siswa diwajibkan untuk membuat laporan atas informasi yang telah didapatkan saat kunjungan industri yang berkaitan dengan perusahaan yang bersangkutan.
B.   MAKSUD DAN TUJUAN KUNJUNGAN INDUSTRI

Maksud dan tujuan kunjungan industri yang dibahas pada laporan ini yaitu :
1.       Untuk mengetahui proses pembuatan gula di Pabrik Gula Madukismo dan mengetahui alat-alat apa saja yang di gunakan didalamnya
2.      Untuk mengetahui produk yang di hasilkan dari limbah pembuatan gula di Pabrik Gula Madukismo


BAB II          PELAKSANAAN


Kunjungan industri ini dilaksanakan pada :
Hari/tanggal              : Kamis, 15 Oktober 2015
Pukul                          : 08.00 WIB – selesai
Tempat                       : PT Madu Baru (PG/PS Madukismo) Desa Padokan, Kelurahan Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewwa Yogyakarta

BAB III                 MATERI

1.       TINJAUAN PUSTAKA


Sebelum kita membahas mengenai penggunaan mesin-mesin pembuat gula, ada baiknya bila kita mengulas sedikit mengenai bahan dasar pembuatan gula yaitu tebu. Nama tebu hanya terkenal di Indonesia. dilingkungan internasional tanaman ini lebih dikenal dengan nama ilmiahnya Saccharum officinarum L. Jenis ini termasuk dalam famili Gramineae atau kelompok rumput-rumputan. Secara morfologi tanaman tebu dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu batang, daun, akar, dan bunga (Anonim.2007.PT.MADUBARU.Yogyakarta : Padokan ). Varietas tebu yang baik untuk bahan baku gula adalah Varietas tebu yang termasuk kedalam kriteria Varietas yang sudah mencapai masa tebu layak giling. Yang dimaskud tebu layak giling adalah :
  1. Tebu yang ditebang pada tingkat pemasakan optimal.
  2. Kadar kotoran (tebu mati, pucuk, pelepah tanah, dll) maksimal 2%
Jangka waktu sejak tebang sampai giling tidak lebih dari 36 jam. Berdasarkan ciri-ciri tebu diatas maka pada umumnya pabrik gula di Indonesia memakai tebu Varietas Ps dari pasuruan  dan Bz dari Brazil. (Anonim.2007.PT.MADUBARU.Yogyakarta:Padokan )
·         Jenis Mesin Manual yang Digunakan dalam Pembuatan Gula
Mesin-mesin manual yang digunakan dalam proses pembuatan gula antara lain adalah :
      1.      Mesin elektrolisa yang terdiri dari
         Mesin pengerja pendahulu (Voorbewer kers) yang terdiri dari Unigator Mark IV dan Cane knife.
         Alat gilingan terdiri dari 5 buah gilingan dan 3 rol penggiling
      2. Mesin pemurnian nira yang terdiri dari :
         Tabung Defekator
         Alat Pengendap
         Rotary Vacuum Filter
3. Mesin penguap yang terdiri dari :
         Beberapa evaporator
         Kondespot
         Michaelispot
         Pompa vakum
4. Mesin kristalisasi terdiri dari :
         Pan vakum
         Palung pendingin (kultrog)
3. Mesin putaran gula (centrifugal)
         Broadbent
         Batch Sangerhausen
         Wester Stated CCS
         BMA 850 K
4. Mesin pengering
5. Mesin pembangkit tenaga uap/listrik
         Jenis Mesin Modern yang Digunakan dalam Pembuatan Gula
  1. Boiler
  2. Diffuser
  3. Clarifier
  4. Vakum Putar
  5. Evaporator Majemuk(multiple effect evaporator)
  6. Sentrifugasi
  7. Resin
  8. Recover
Pabrik merupakan suatu tempat yang menghasilkan banyak produk yang dibutuhkan masyarakat, apalagi pada era globalisasi saat ini sangat berketergantungan terhadap hasil industri. Tapi kebanyakan dari mereka banyak yang tidak menyadari bahwa produk yang dihasilkan oleh pabrik juga menghasilkan banyak limbah. Limbah-limbah ini membutuhkan penanganan khusus agar dapat ramah lingkungan dan tidak menjadi sampah dalam lingkungan. Pabrik Gula Madukismo telah memberikan terobosan baru dengan menjadikan limbah-limbah yang dihsilkan dari produk yang telah mereka buat menjadi energi alternatif seperti pembangkit listrik atau pembuatan ethanol dan spiritus.
PT. Madubaru yang berlokasi didaerah kabupaten Bantul Provinsi DIY mempunyai usaha pokok pabrik gula dan pabrik alkohol spritus madukismo dengan potensi dan peluang pengembangan usaha yang potensial masih memiliki kesempatan tumbuh dan berkembang menjadi suatu perusahaan agro industri yang berbasis tebu dan dikelola secara profesional dan inovatif mengahadapi persaingan bebas di era globalisasi dengan petani sebagai mitra sejati.
Dengan menggunakan strategi bisnis overall cost leadership pada usaha pokok dan strategi bisnis differensiasi pada diversifikasi usaha maka PT. Madubaru siap menghadapi persaingan di era globalisasi. PT. Madubaru dengan kepemilikan saham 65% sri sultan hamengkubuwono IX (keraton ngayogyakarta hadiningrat ) dan 35% pt rajawali nusantara indonesia (pt rni),serta pelaksanaan konsep good corporate governance (gcg) secara konsisten akan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat petani tebu dan insvestor yang menanamkan modalnya.

SEJARAH PABRIK GULA MADUKISMO YOGYAKARTA

            Dibangun pada tahun 1955 Atas prakarsa Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan diresmikan pada tanggal 29 Mei 1958 oleh Presiden Ir. Soekarno. Pabrik Gula Madukismo memulai produksi pabrik gula tahun 1958. Pabrik Gula Madukismo adalah satu-satunya pabrik gula dan pabrik alkohol atau spritus di Provinsi DIY.
            Pabrik spritus 1959 yang mempunyai kontraktor utama yaitu Machine Fabriek Sangerhausen, Jerman Timur dimana Status perusahaan ini adalah perseroan terbatas dan didirikan 14 juni 1955.
            Diberi nama Pabrik-Pabrik Gula Madubaru PT. (P2G. Madubaru PT), Memiliki 2 pabrik yaitu Pabrik Gula (PG) Madukismo, Pabrik Alkohol atau Pabrik Spiritus (PS) Madukismo yang menjadi satu dalam cabang pabrik tersebut.
            Pabrik Gula Madukismo memiliki saham awal berdiri 75% dari Sri Sultan Hamengkubuwana IX, dan 25% milik pemerintah RI. Namun saat ini dirubah menjadi 65% milik Sri Sultan Hamengkubuwono X, 35% milik pemerintah RI.
            Pada tahun 1955-1962 masih menjadi perusahaan swasta Perseroan tersbatas, kemudian 1962-1966 bergabung dengan perusahaan negara dibawah BPU-PPN (Badan Pimpinan Umum-Perusahaan Negara), karena adanya polisi pemerintah RI yang mengambil alih semua perusahaan di Indonesia.
            Tahun 1966 BPU-PPN bubar PT. Madubaru memilih perusahaan swasta yang kemudian PT. Madubaru menjadi perusahaan swasta dengan susunan direksi yang dipimpin Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai presiden direktur pada tahun 1984.
            Pada 4 maret 1984-24 Februari 2004 : diadakan kontrak management dengan PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) yang kemudian satu bulan selanjutnya PT Madubaru menjadi perusahaan mandiri

VISI DAN MISI PERUSAHAAN


PG Madukismo adalah salah satu pabrik gula dan pabrik alkohol atau spirtus di Daerah Istimewa Yogyakarta yang mengemban tugas untuk mengsukseskan program pengadaan pangan Nasional, khususnya gula pasir. Sebagai Perusahaan padat karya banyak menampung tenaga kerja dari Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Visi :
PT Madu Baru menjadi perusahaan agro industri yang unggul di Indonesia dengan petani sebagai mitra sejati
Misi :
v  Menghasilkan gula dan etanol yang berkualitas untuk memenuhi permintaan masyarakat dan industri di Indonesia
v  Menghasilkan produk dengan memanfaatkan teknologi maju yang ramah lingkungan, dikelola secara profesional dan inovatif memberikan pelayanan yang prima kepada pelanggan serta mengutamakan kemitraan dengan petani
v  Mengembangkan produk atau bisnis baru yang mendukung bisnis inti
v  Menempatkan karyawan dan stackholder lainnya sebagai bagian terpenting dalam proses penciptaan keunggulan produksi dan pencapaian shareholder value

STRUKTUR ORGANISASI PT. MADU BARU
Susunan pegurus saat ini sebagai berikut :
       1.       Komisaris Utama
      -  GKR Pembayun
       2.       Komisaris
      -  Drs. H. Sumargono Kusumohadiningrat
      -  Ir. H. Bambang Sumardiko
       3.       Direktur
      -  Ir. Rachmad Edi Cahyono, M.SI

      KEMAJUAN-KEMAJUAN PG. MADUKISMO YOGYAKARTA
         Desain awal 1.500 ton tebu perhari (tt)
         Tahun 1976 ditingkatkan lagi menjadi 2500 tth
         Tahun 1992 ditingkatkan lagi menjadi 3000 tth
         Tahun 2000 – sekarang berhasil mencapai hingga 3500 tth

PS MADU KISMO
         Tahun 1976 awal 15.000 liter alcohol per hari
Tahun 2002 ditingkatkan menjadi 25000 liter per hari

Berikut merupakan proses pengolahan gula di PG Madukismo :
Proses pembuatan gula dapat dilakukan dalam beberapa tahapan yang terbagi atas stasiun-stasiun. Stasiunnya antara lain :
1.                   Stasiun Penerimaan tebu
2.                  Stasiun Gilingan
3.                  Stasiun Pemurnian
4.                  Stasiun Penguapan / Evaporasi
5.                  Stasiun Masakan / Kristalisasi
6.                  Stasiun Puteran
7.                  Stasiun Penyelesaian
1)     Stasiun Penerimaan Tebu
Pada stasiun penerimaan tebu ini melalui beberapa tahapan-tahapan, seperti yang dijelaskan pada gambar dibawah ini :
Gambar 1.1 Tahapan Pada Stasiun Penerimaan Tebu
1. Overhead crane / Cane crane
Alat ini digunakan untuk mengangkut tebu dari lori atau truck dan meletakkannya di meja tebu. Overhead crane dijalankan oleh operator untuk diletakkan di meja tebu.


2. Cane Table atau Meja Tebu
Alat ini digunakan sebagai penampung umpan tebu serta mengatur banyaknya jumlah tebu yang akan digiling secara kontinu karena alat ini dilengkapi dengan laveler berupa rol bergerigi yang akan mengatur permukaan atau ketebalan tebu agar dapat jatuh dengan tepat dalam cane carrier. Meja tebu memiliki panjang berkisar antara 2 – 3 meter.
3. Cane carrier
Alat ini berfungsi untuk membawa tebu yang telah diatur dalam meja tebu ke dalam cane cutter.
4. Cane cutter
Alat ini berfungsi untuk memotong dan menyayat tebu agar menjadi potongan tebu kasar agar lebih memudahkan saat dicacah dalam unigrator.
5. Unigrator
Alat ini berfungsi untuk memukul dan mencacah potongan tebu kasar agar menjadi serpihan halus sehingga memmudahkan dan mempercepat ekstraksi pada saat penggilingan.
Untuk pemenuhan kualitas gula yang baik, bahan baku tebu yang diterima harus memenuhi pola MBS yaitu Manis, Bersih dan Segar. Proses penilaian bahan baku pola MBS ini dilakukan oleh petugas lapangan pabrik gula (PLPG) setiap kali tebu akan dikirim ke pabrik sehingga tebu yang masuk dapat terjamin kualitasnya. Sistem pemasukan tebu menuju stasiun penggilingan menggunakan prinsip FIFO (first in first out) dimana tebu yang pertama kali masuk dalam stasiun penerimaan adalah tebu yang pertama kali akan digiling, hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya penurunan rendemen dalam tebu. Penurunan rendemen terjadi karena tebu mengalami proses respirasi terus menerus yang dapat mengakibatkan menurunnya kandungan gula. Pada stasiun penerimaan ini juga terdapat proses penimbangan tebu guna untuk mengetahui bobot tebu yang akan digiling seperti alur yang dijelaskan pada gambar berikut ini :
Gambar 1.3. Alur Penerimaan dan Penimbangan Tebu
Besarnya persentasi rendemen secara riil dapat diketahui dengan menghitung perbandingan antara gula yang dihasilkan dengan sejumlah tebu yang digiling di pabrik, kemudian nilai tersebut dikalikan 100%, oleh karena itu kita memerlukan penimbangan tebu ini supaya dapat mempermudah dalam menghitung rendemen tebu yang digiling selama penggilingan berlangsung.
Penimbang tebu ini terdiri dari:timbangan brutto, timbangan tarra dan timbangan lori. Pada masing-masing timbangan memiliki kegunaan yang berbeda-beda seperti yang dijelaskan pada pengertian dibawah ini:
a.      Timbangan brutto ; Untuk menimbang truk yang bermuatan tebu sehingga diketahui berat kotor (brutto) dari truk dan tebu.
b.      Timbangan tarra ; untuk menimbang truk yang tebunya telah di giling sehingga dapat di ketahui berat bersih tebu yang di di giling.
c.       Timbangan lori ; Untuk menimbang berat tebu yang di angkut dengan lori, lori yang ada di beri kode dan telah di ketahuim beratnya sehingga tebu yang di angkut dengan lori langsung dapat di ketahui beratnya, lori biasanya di gunakan untuk mengangkut daerah – daerah histories yang berada di sekitar pabrik. tebu masuk ke dalam pabrik untuk diproses lebih lanjut, tebu harus ditimbang terlebih dahulu.
Tujuan dari penimbangan ini adalah :
1.                   Mengetahui bobot tebu yang masuk ke pabrik dari kebun tebu
2.                  Menghitung biaya upah tebang yang harus dibayarkan
3.                  Menghitung pengawasan proses lainnya
4.                  Mempermudah dalam pengambilan keputusan di dalam pabrik.

2)    Stasiun Gilingan
Tahap selanjutnya dalam pembuatan gula tebu adalah ekstraksi. Caranya dengan menghancurkan tebu dengan mesin penggiling untuk memisahkan ampas tebu dengan cairannya. Setelah tebu menjadi serpihan halus selanjutnya diolah dalam stasiun gilingan yang bertujuan untuk memerah nira dari batang tebu sebanyak mungkin dengan kehilangan nira seminimal mungkin, diharapkan nira yang dapat diperah adalah 90%. Pada stasiun ini terjadi pemisahan antara bagian tebu yang mengandung cairan dengan kotoran dan ampas yang berupa padat. Alat penggiling tebu yang digunakan di pabrik gula berupa suatu rangkaian alat yang terdiri dari alat pengerja pendahuluan (Voorbewer keras) yang dirangkaikan dengan alat giling dari logam. Alat pengerja pendahuluan terdiri dari Unigator Mark IV dan Cane knife yang berfungsi sebagai pemotong dan pencacah tebu. Setelah tebu mengalami pencacahan dilakukan pemerahan nira untuk memerah nira digunakan 5 buah gilingan, masing-masing terdiri dari 3 rol dengan ukuran 36”X64”.







1. Gilingan I
Pada gilingan pertama hanya terdiri dari serpihan – serpihan tebu sari unigrator yang setelah digiling akan menghasilkan nira perahan pertama (NPP) dan ampas. NPP selanjutnya dipompa menuju DSM Screen untuk dilakukan penyaringan agar terpisah nira dengan ampas. Dari DSM Screen nira dipompa ke Door Clone untuk dilakukan pemisahan dengan pasir yang masih terikut. Nira yang telah dipisahkan pasirnya dialirkan ke bak penampungan nira mentah, sedangkan ampasnya diangkut dengan Intermediet Carrier (IMC) menuju gilingan kedua.
2. Gilingan II
Pada gilingan kedua terdiri dari ampas gilingan pertama dan ampas dari DSM Screen, yang kemudian ditambahkan nira imbibisi (N3) atau nira dari hasil perahan gilingan ketiga, banyak air imbibisi yang diperlukan sebanyak 20 – 30% dari berat batang tebu yang digiling. Tujuan dari penambahan nira imbibisi adalah untuk melarutkan gula yang masih terkandung dalam ampas dan kemudian mengeluarkannya dengan pemerasan pada gilingan berikutnya.
Dari gilingan kedua ini akan dihasilkan nira perahan kedua (NPK) dan ampas. NPK akan ditampung dalam bak penampung nira mentah yang sama dengan NPP, selanjutnya ditambahkan Ca(OH)2 dan asam phosphate (H3PO4). Penambahan Ca(OH)2 bertujuan untuk menjaga kondisi nira agar tidak terlalu asam karena jika terlalu asam akan menyebabkan terbentuknya gula inverse dan mencegah berkembangnya mikroorganisme yang dapat merusak sukrosa yang terdapat dalam nira dan sedangkan H3PO4 bertujuan agar terbentuk endapan kalsium phosphate (Ca3(PO4)2) sebagai inti endapan yang mampu mengikat koloid. NPP dan NPK yang telah ditambahkan H3PO4 dan Ca(OH)2 disebut nira mentah dengan pH 6,8 yang akan diolah dalam stasiun berikutnya. Ampas dari gilingan kedua akan dibawa dengan IMC menuju gilingan ketiga.
3. Gilingan III
Pada gilingan ketiga, ampas dari gilingan kedua ditambahkan ampas dari DSM screen dan ditambahkan nira imbibisi (N4) atau nira yang berasal dari gilingan keempat, kemudian diperah menghasilkan ampas dan nira perahan ketiga (N3). N3 akan digunakan untuk nira imbibisi gilingan kedua dan ampasnya dibawa oleh IMC menuju gilingan keempat.
4. Gilingan IV
Pada gilingan keempat, ampas gilingan ketiga yang digunakan sebagai umpan ditambahkan dengan air imbibisi dan nira imbibisi (N5) atau nira perahan gilingan kelima. Air imbibisi yaitu air panas dengan suhu 60 – 70°C yang berasal dari air condesat. Suhu air berkisar 60 – 70°C jika suhunya terlalu tinggi akan melarutkan zat lilin (peptin) dalam tebu sehingga akan mengganggu proses pemurnian dan pengendapan, selain itu juga akan menyebabkan selip dalam gilingan, namun jika suhunya terlalu rendah akan menyebabkan pelarutan yang kurang sempurna dan kemungkinan masih ada bakteri yang belum mati dalam nira. Dari gilingan ini akan menghasilkan ampas dan nira perahan keempat (N4), N4 akan digunakan sebagai nira imbibisi gilingan ketiga, sedangkan ampas dibawa IMC menuju gilingan kelima.
5. Gilingan V
Pada gilingan kelima, umpan dari gilingan keempat ditambahkan air imbibisi sebagai air pencuci ampas terakhir dan diharapkan mampu melarutkan nira sebanyak – banyaknya sehingga nira yang terbawa oleh ampas terakhir sedikit. Dari gilingan kelima ini akan menghasilkan ampas (baggase) dan nira perahan kelima (N5). N5 digunakan sebagai nira imbibisi gilingan keempat, sedangkan ampasnya diangkut dengan baggase carrier menuju dapur pembakaran ketel dan digunakan sebagai bahan bakar ketel.
3)    Stasiun Pemurnian
Penggunaan unit peralatan berupa pemanas pendahuluan (heat exchanger), defekator, sulfitator, expandeur, clarifier, rotary vacuum filter. Proses pemurnian nira dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 2.1. Pemurnian Nira
Ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk proses pemurnian gula yaitu cara defekasi, sulfitasi dan karbonatasi. Pada umumnya pabrik gula di indonesia memakai cara sulfitasi. Cara sulfitasi menghemat biaya  produksi, bahkan pemurnian mudah di dapat dan gula yang dihasilkan adalah gula putih atau SHS (Superieure Hoofd Sumber).
Proses ini menggunakan tabung defekator, alat pengendap dan saringan Rotary Vacuum Filter dan bahan pemurniannya adalah kapur tohor dan gas sulfit dari hasil pembakaran.
Mula-mula nira mentah ditimbang, dipanaskan, direaksikan dengan susu kapur dalam defekator, kemudian diberi gas SO2 dalam peti sulfitasi,  dipanaskan dan diendapkan dalam alat pengendap. Nira kotor yang diendapkan kemudian disaring menggunakan  Rotery Vaccum Filter. Dari proses ini dihasilkan nira jernih dan endapan padat berupa blotong. Nira jernih yang dihasilkan kemudian dikirim kestasiun penguapan.
4)     Penguapan Nira (Evaporasi)
Nira jernih masih banyak mengandung uap air. Untuk menghilangkan kadar air dilakukan penguapan (evaporasi).
       Dipabrik gula penguapan dilakukan dengan menggunakan beberapa evaporator dengan sistem multiple effect yang disusun secara interchangeable agar dapat dibersihkan bergantian. Evaporator bisanya terdiri dari 4-5 bejana yang bekerja dari satu bejana sebagai uap pemanas bejana berikutnya. Total luas bidang pemanas 5990m2 vo.
Dalam bejana Nomor 1 nira diuapkan dengan menggunakan bahan pemanas uap bekas secara tidak langsung. Uap bekas ini terdapat dalam sisi ruang uap dan nira yang diuapkan terdapat dalam pipa-pipa nira dari tombol uap. Dari sini, uap bekas yang mengembun dikeluarkan dengan kondespot. dalam bejana nomor 2, nira dari bejana nomor 1 diuapkan dengan menggunakan uap nira dari bejana penguapan nomor 1. Kemudian uap nira yang mengembun dikeluarkan dengan Michaelispot. Di dalam bejana nomor 3, nira yang berasal dari bejana nomor 2 diuapkan dengan menggunakan uap nira dari bejana nomor 2. Demikian seterusnya, sampai pada bejana terakhir merupakan nira kental yang berwarna gelap dengan kepekatan sekitar 60 brik. Nira kental ini diberi gas SO2 sebagai belancing dan siap dikristalkan. Sedangkan uap yang dihasilkan dibuang ke kondensor sentral dengan perantara pompa vakum.
5)     Masakan/Kristalisasi
Nira kental dari sari stasiun penguapan ini diuapkan lagi dalam suatu pan vakum, yaitu tempat dimana nira pekat hasil penguapan dipanaskan terus-menerus sampai mencapai kondisi lewat jenuh, sehingga timbul kristal gula.
Sistem yang dipakai yaitu ABD, dimana gula A dan B sebagai produk,dan gula D dipakai sebagai bibit (seed), serta sebagian lagi dilebur untuk dimasak kembali. Pemanasan menggunakan uap dengan tekanan dibawah atmosfir dengan vakum sebesar 65 cmHg, sehingga suhu didihnya 650c. Jadi kadar gula (sakarosa) tidak rusak akibat terkena suhu yang tinggi. Hasil masakan merupakan campuran kristal gula dan larutan (Stroop). Sebelum dipisahkan di putaran gula, lebih dulu didinginkan pada palung pendinginan (kultrog).
6)     Pemisahan Kristal Gula
Pemisahan gula dilakukan dengan proses karbonatasi yakni mereaksikan gula dengan gaskarbon. Sehingga gula dengan stroop dapat terpisah.Hasil pemisahan berupa gula, stroop, dan tetes tebu. Tetes tebu dan stroop merupakan limbah dari proses pembuatan gula. Dimana Stroop yang menjadi tetes tebudapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan etanol (C2H5OH).
Pemisahan kristal dilakukan dengan menggunakan saringan yang bekerja dengan gaya memutar (sentrifungal). Alat ini bertugas memisahkan gula terdiri dari:
a.       3 buah broadbent 48” X 30”untuk gula masakan A.
b.      4 buah bactch sangerhousen 48” X 28” untuk masakan B.
c.       2 buah western stated CCS untuk D awal.
d.      6 buah batch sangerhousen 48” X 28” untuk gula SHS.
e.       3 buah BNA 850 K untuk gula D.
Dalam tingkatan pengkristalan, pemisahan gula dari tetesnya terjadi pada tingkat B. Pada tingkat ini terjadi poses separasi (pemisahan). Mekanismenya menggunakan gaya sentrifugal. Dengan adanya sistem ini, tetes dan gula terpisah selanjutnya pada tingkat D dihasilkan gula melasse (kristal gula) dan melasse (tetes gula).
7)      Pengeringan  Kristal Gula
Air yang dikandung kristal gula hasil sentrifugasi masih cukup tinggi, kira-kira 20% . Gula yang mengandung air akan mudah rusak dibandingkan gula kering, untuk menjaga agar tidak rusak selama penyimpanan, gula tersebut harus dikeringkan terlebih dahulu. pengeringan dapat dilakukan dengan cara alami atau dengan memakai udara panas kira-kira 800c. pengeringan gula secara alami  dilakukan dengan melewatkan SHS pada talang goyang yang panjang. Dengan melalui talang ini gula diharapkan dapat kering dan dingin. Proses pengeringan dengan cara ini membutuhkan ruang yang lebih luas dibandingkan cara pemanasan. Karena itu, pabrik-pabrik gula menggunakan cara pemanasan. Cara ini bekerja atas dasar prinsip aliran berlawanan dengan aliran udara panas.
Bioetanol
Bioetanol adalah etanol yang diproduksi dengan cara fermentasi menggunakan bahan baku nabati. Dalam buku ini akan dibahas tentang karakterisasi bioetanol, prospek bioetanol, manfaat dan kebutuhan nasional serta peluang pasarnya. Pembahasan lebih fokus pada proses  pembuatan bioetanol dari mulai penyediaan bahan baku, proses, aspek fermentasi sampai pada pengawasan mutunya. Bahan baku meliputi bahan baku sumber gula diantaranya adalah molases dan nira, bahan baku sumber pati yaitu ubikayu, jagung serta ubi-ubian lain, serta bahan baku sumber serat (lignoselulosa) diantaranya tongkol jagung, sekam dan sebagainya. Bab bahan baku juga dibahas bahan pembantu untuk produksi bioetanol. Proses pembuatan bioetanol dibedakan menjadi tiga berdasarkan bahan bakunya yaitu bahan baku sumber gula, pati dan serat. Proses pembuatan bioetanol meliputi aspek fermentasi dan destilasinya. Disamping itu buku ini juga membahas produk samping, perlengkapan teknis produksi dan pengawasan dan pengendalian mutu dalam industri bioetanol.
Proses pembuatan bioetanol  
          Bahan baku yang digunakan untuk membuat bioetanaol adalah tetes, yang merupakan hasil sampingan dari PG. Madukismo. Proses yang dipakai adalah peragian (fermentasi), dari ragi yang dipakai : Sacharomyces Cereviceae. Enzim yang ada dalam ragi ini mengubah gula yang masih ada dalam tetes menjadi alcohol dan gas CO2
Reaksi kimia :
         Sakarosa dihidrolisa menjadi glukosa (gula reduksi)
C12 H22 O11+ H2O
2C6 H12 O6
         Gula reduksi bereaksi menjadi alkohol + gas CO2
C6 H12 O6
2C2 H5 OH + 2CO2 alkohol
Proses Pembibitan dan Fermentasi
Dalam memperbanyak Saccharomyces Cereviseae dengan cara kultur dengan menggunakan.Medium : gulosa, pepton, ekstrak tauge, ekstrak pisang ambon, agar tetes tebu/molase sebagai aklimitasi peremajaan kultur Saccharomyces Cereviseae dilakukan 1 bulan sekali, maksimal 2 bulan dengan tujuan untuk mengaktifkan kembali fungsi kerja Saccharomyces Cereviseae.
1.      Dibuat secara 2 tahap :
30 cc dengan Brix 6Untuk mengukur kadar brik dengan menggunakan Brix meter. Kemudian penambahan urea sebanyak 1 gr, NPK sebanyak 0,3 gt, H2SO4 dengan PH 4,8. Setelah selesai di buat, kemudian disterilisasi dengan pemanasan biasa. Memasukan masing-masing larutan ke dalam erlenmayer ( I dan II ). Kemudian dipanaskan dan didinginkan / diinkubasi selama 24 jam.
2.      Menyiapkan tangki 19 dengan kapasitas tangki 12 L, penambahannya Urea 10 gr, NPK 3 gr, H2SO4 pH 4,8 dan memasukan erlenmeyer I dan II ke dalam tangki 19 di inkubasi selama 24 jam.4. Menyiapkan tangki 20 dengan kapasitas tangki 48 L, penambahan urea 48gr NPK 14,4 gr, H2SO4 dengan pH 4,8, dan dimasukan hasil inkubasi dari tangki 19 kemudian di inkubasi kembali 24 jam.
3.      Hasil pada tahap ke empat selanjutnya dimasukan ke tangki 21 dengan kapasitas tangki 480 L dan penambahan urea 480gr, NPK 144gr, H2SO4 dengan pH 4,8 diinkubasi 24 jam.
4.      Hasil pada tahap ke 5, selanjutnya dimasukan ke tangki 22/1 dengan kapasitas tangki 3010L diinkubasi selama 24 jam. Setelah 24 jam masuk ketangki 22/2 dengan kapasitas tangki 3010 L diinkubasi kembali selama 16 jam dan diperoleh bibit /starter Saccharomyces Cereviseae dalam tangki sebanyak 350 L dan kondisi bibit / starter masih aerob.
5.      Bibit / starter Saccharomyces Cereviseae pada tangki 22/2 diinginkan sebanyak 2660L dan dicampurkan ke dalam tangki 25 yang berkapasitas 18000L, dengan penambahan Urea, NPK dan H2SO4 dan diinkubasi kembali selama 16 jam, kondisi masih aerob.
6.      Hasil pada tahap ke 7 selanjutnya di masukan kedalam tangki 26 berkapasitas 75000L (sludge) dan diinkubasi selama 50 jam, kondisi anaerob.
Hasil akhir berupa alkohol dengen kadar maksimal 10 % untuk menaikan kadar absolut 95% untuk menjadi bioetanol dilakukan proses penyulingan / distilasi. Dan untuk proses pembuatan spritus dibutuhkan kadar alkohol dibawah 94% dengan proses penyulingan dan penambahan metyln blue.
Penyulingan
Adonan yang telah selesai diragikan, dipisahkan alkoholnya (disuling) di dalam pesawat penyulingan yang terdiri dari 4 kolom:
         Kolom Maische
         Kolom Rectifiser
         Kolom Voorloop
         Kolom Nachloop
Penyulingan menggunakan tenaga uap dengan tekanan 0.5 kg/cm2 suhu 120º
a)      Kolom Maische:
Alkohol kasar kadar ± 45% masuk ke Kolom Voorloop
Hasil bawah : Vinase dibuang
b)      Kolom Voorloop
Hasil atas : Alkohol teknis kadar : 94% masih mengandung aldehid, ditampung sebagai hasil. Hasil bawah : Alkohol mudah kadar ± 25% masuk ke Kolom Rectifiser.
c)      Kolom Rectifiser
         Hasil atas : alkohol murni (prima 1) kadar minimal 95% ditampung sebagai hasil.
         Hasil tengah : alkohol mudah yang mengandung minyak Fusel, masuk Kolom Nachloop
         Hasil bawah : Lutter washer, air yang bebas alkohol, kadang-kadang bila perlu sebagian digunakan untuk menamnah kolom Voorloop sebagai bahan penyerap alkohol dan sebagian dibuang.
d)     Kolom Nachloop
         Hasil atas : alkohol teknis kadar 94% ditampung sebagai hasil.
         Hasil bawah : air yang bebas alkohol, dibuang.
Minyak Fusel (amyl alcohol) merupakan hasil samping pabrik spiritus, ini bisa digunakan untuk bahan baku pembuatan essence (amylacetat).
Hasil Produksi
Alkohol dibedakan atas dasar kualitas :
1.      Alkohol teknis : yang masih mengandung aldehid, kadar ± 94% digunakan untuk membuat spiritus bakar
2.      Alkohol murni : minimal kadar 95% bisa dipakai industri farmasi, kosmetik dll.
Hasil sampingan : minyak fusel (amyl alcohol)
Pemakaian tetes : rata-rata satu hari 900 kuintal
Produksi rata-rata : 25.000 liter alkohol per 24 jam, terdiri dari (88% alkohol murni, 12% alkohol tetes).
Rendemen : 28% (28 liter alkohol per kuintal tetes).

Proses pengolahan limbah sebagai berikut :
a)      Blotong yang didapat dari proses pemurnian nira direaksikan dengan zat-zat organik. Blotong akan menjadi pupuk yang mengandung N, P dan K.
b)      Limbah dari gula berupa tetes dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alkohol. Pembuatan
c)       alkohol murni dengan cara memfermentasikan tetes dengan bakteri Sacharomyces Cereviceae.
d)      Bocoran minyak pelumas berasal dari stasiun gilingan ditampung di drum-drum kemudian dimanfaatkan kembali.
e)      Vinnase (Slop), berasal dari stasiun destilasi dimanfaatkan untuk irigasi pertanian karena mengandung N, P dan K. 
f)       Pembangkit Tenaga Uap untuk Tenaga Listrik
Penghasil tenaga uap di gunakan 5 buah ketel pipa air dimana uap yang dihasilkan dipakai untuk menggerakkan alat-alat berat, memanaskan dan menguapkan nira dalam pan penguapan, serta untuk pembangkit tenega listrik. Sebagai bahan bakarnya di pakai ampas tebu yang mengandung kalori sekitar 1800 kkl/kg.


1.       Ketel

2.      Ken Penampung

3.      Evaporator








4.      Tempat Pengkristalan Gula

5.      Tangki Adonan

6.      Tangki Tetes Ukur

7.      Kondisi Gula Sebelum Pengemasan

8.      Pengemasan Gula

9.      Gudang Penyimpanan Gula

10.   Kondisi Pabrik Gula Madukismo

11.    Tempat Pembuatan Alkohol

12.   Tempat Penyulingan Alkohol


13.    Tempat Penampungan Alhokol


           Nama Alat
           Fungsi
Alat Pengilingan Tebu
Untuk  mengiling dan memeras tebu agar terpisah dari ampasnya
Tangki serfobalance
Sebagai timbangan yang
mengunakan sistem kontrol otomatis dengan kapasitas 4,3 ton dalam sekali timbang,
Alat Pemanas (Raw Juice Heating)
(Raw
Juice Heating) membantu  untuk membunuh mikroba yang ada dalam nira untuk mempercepat reaksi proses sulfitasi dan defikasi serta mencegah
terjadinya hidrolisis sukrosa. Pengunaan panas yang diberikan tidak boleh terlalu tinggi
Turbin
- Kecepatan putaran : 5800 rpm
- Tekanan masuk : 18 kg/cm2
- Daya : 3600 KW
- Jumlah : 2 unit
Tangki Defikator
Sebagai tempat proses pencampuran
susu kapur, agar pencampuran susu kapur dengan nira menjadi merata, nira yang telah ditampung direaktor dan sudah dicampur dengan susu kapur diaduk dengan alat pengaduk yang telah diatur kecepatannya. Tujuan dari pengadukan ini supaya susu kapur akan menyebar.
Bejana pengendapan (door clarifier)
bejana pengendapan (door clarifier) prinsip kerja dari pengendapan adalah
memisahkan nira dengan kotoran yang terkandung didalam nira dengan tidak
merusak nira itu sendiri.

Rotary Vacum Filtrasion
Sebagai alat pembantu dalam proses penyaringan.
Alat pemasakan
Sebagai alat pemasakan yang bertujuan untuk mengkristalkan gula atau mengubah bentuk sukrosa dari zat terlarut dalam nira menjadi padat berbentuk kristal gula
Evaporator
- Type : Calandria/ KHI Japan
- Volume : 1500 m2
- Jumlah : 5 unit
- Diameter pipa : 36 mm
- Tebal pipa : 1,5 mm
- Jumlah pipa : 5790 batang
- Fungsi : Tanki pengupan nira
Tangki sulfitase
Peti Sulfitasi Nira Mentah
- Kapasitas : 18 m3/jam
- Diameter tangki : 2700 mm
- Tinggi tangki : 6000 mm
- Type : Cylindrial
- Produksi : KHI, Japan
- Fungsi : Tangki pencampuran nira mentah dengan
belerang

Condensat
Condensat Receiver
- Merk/Type : Little King/ TF-70-NNR// Ebara Japan
- Kapasitas : 2 m2/jam
- Temperatur : 1000C
- Fungsi : Tempat penampung air kondensat





BAB IV                 KESIMPULAN

 

Kesimpulan yang kami dapat dari hasil kunjungan industri pada tanggal 15 Oktober 2015 di PT. MADUBARU (PG/PS Madukismo) diantaranya adalah :
1.       Proses pembuatan gula dapat dilakukan dalam beberapa tahapan yang terbagi atas stasiun-stasiun. Stasiunnya antara lain :
a.      Stasiun Penerimaan tebu
b.      Stasiun Gilingan
c.       Stasiun Pemurnian
d.      Stasiun Penguapan / Evaporasi
e.      Stasiun Masakan / Kristalisasi
f.        Stasiun Puteran
g.      Stasiun Penyelesaian

2.      Produk yang dihasilkan dari limbah Pabrik Gula Madukismo adalah :
Spiritus, Alkohol, Batako, dan Pembangkit Listrik dari tenaga uap.


BAB V           PENUTUP


Sekian, laporan ini saya susun apabila ada kata-kata yang kurang berkenan, ataupun salah dalam penulisan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga laporan ini bermanfaat. Amin.
Saran yang dapat saya berikan untuk Kunjungan Industri di Yogyakarta ini adalah siswa/siswi SMKN 1 Temanggung lebih teliti dalam mendapatkan informasi, tidak hanya sekedar observasi dan pengamatan sendiri, tapi juga melakukan wawancara terhadap orang yang ahli disana agar dapat menambah valid informasi yang didapat.

DAFTAR PUSTAKA


http://alwi14hernandes.blogspot.co.id/2014/05/laporan-kkl-pabrik-gula-madukismo.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar