Search

Kamis, 09 Oktober 2014

Kliping Sejarah Masa Praaksara :)



KLIPING SEJARAH INDONESIA
·       CORAK HIDUP MASYARAKAT PRAAKSARA
·       PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PADA MASA PRAAKSARA

OLEH :
NAMA                : FATWA SABILLA SOFYANY
KELAS               : 1 TPHP 3
NO. ABSEN       : 17
NIS                      : 8902
SMK NEGERI 1(STM PEMBANGUNAN) TEMANGGUNG
JL. KADAR MARON KOTAK POS 104 KODE POS 56221 TEMANGGUNG



KATA PENGANTAR

      Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Dalam penyusunannya, kami memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua dan segenap keluarga besar yang telah memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi. Meskipun kami berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.


Temanggung, 27 September 2014

Penulis



PEMBAHASAN
Ø CORAK HIDUP MASYARAKAT PRAAKSARA
1.      Pola Hunian
Situs Gua Hunian Pra Sejarah Morotai Selatan, Kajian Fungsi dan Artefaktual
Manusia mengenal tempat tinggal atau menetap semenjak masa Mesolithikum (batu tengah)(Soekmono, 1996 : 46) atau masa berburu dan meramu tingkat lanjut(Poesponegoro, 1993 : 125). Sebelumnya manusia belum mengenal tempat tinggal dan hidupnomaden (berpindah-pindah). Setelah mengenal tempat tinggal, manusia mulai bercocok tanam dengan menggunakan alat-alat sederhana yang terbuat dari batu, tulang binatang ataupun kayu (Poesponegoro, 1993 : 135). Tempat tinggal yang pertama dihuni adalah gua-gua atau ceruk peneduh (rock shelter) yang suatu saat akan ditinggalkan apabila sumber makanan di sekitarnya habis. Selain di gua-gua, ada juga yang bertempat tinggal di tepi pantai, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya penemuan kulit kerang dan siput dalam jumlah banyak di samping tulang-tulang manusia dan alatnya di Sumatera Timur (Poesponegoro, 1993 : 125).
Gambar situs gua hunian pra sejarah Morotai Selatan (sumber : http://www.brothers-g.com/2010/09/situs-gua-hunian-pra-sejarah-morotai.html)

Sebelum bertempat tinggal manusia sudah mempunyai kemampuan untuk membuat alat-alat yang berasal dari batu dan tulang. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya temuan alat-alat batu yang sudah ada sejak jaman paleolithikum (batu tua). Tidak menutup kemungkinan alat yang berasal dari kayu sudah dibuat, namun dikarenakan sifat dari kayu yang tidak tahan lama, sehingga alat kayu tersebut hancur dimakan usia. Alat-alat dari masa ini bercirikan masih sangat sederhana, belum diasah dan menggunakan teknik droping system. Teknik droping system, yaitu memukulkan batuan yang satu dengan yang lain sehingga diperoleh bentuk yang diinginkan. Jadi alat dari masa paleolithikum ini tidak sengaja dibuat permanen, tapi dibuat berdasarkan kebutuhan pada saat itu. Seiring perkembangan pola pikir manusia, alat-alat yang digunakan manusia juga mengalami perkembangan, dari yang semula sangat sederhana tidak diasah menjadi diasah, bahkan dibuat dari bahan yang indah dan bagus. Alat-alat yang indah ini sebagian besar merupakan benda pusaka dan kemungkinan juga digunakan alat pertukaran. Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya bekas pemakaian pada alat-alat tersebut. Sampai sekarang dalam kepercayaan masyarakat kita masih mengenal kepercayaan akan kekuatan batu yang indah, seperti batu permata dan lain sebagainya (Poesponegoro, 1993 : 178 - 180). Bahkan di Papua sampai sekarang kapak lonjong masih digunakan sebagai mas kawin dalam perkawinan adat.

Maluku Utara merupakan pintu masuk manusia purba sejak jaman Pleistosen Akhir. Dari Maluku Utara baru kemudian menyebar ke selatan sampai NTT, ke barat sampai Sulawesi dan ke timur sampai Kepulaun Pasifik (Bellwood, 1996 : 278 -279). Bukti peninggalan manusia purba di Maluku Utara adalah adanya gua-gua hunian masa prasejarah (rock shelter) yang tersebar di Morotai, Halmahera Selatan dan Pulau Gebe. Penelitian oleh Bellwood membuktikan bahwa gua-gua di daerah Morotai Selatan (Tanjung Pinang dan Daeo) sudah dihuni manusia purba sejak 14.000 tahun yang lalu (Bellwood, 1996 : 280). Pada gua Tanjung Pinang bahkan ditemukan adanya temuan rangka manusia purba. Pada situs pulau Gebe dan gua Siti Nafisah di Halmahera Selatan ditemukan bekas-bekas kegiatan manusia sejak masa pra tembikar. Beberapa temuan dari situs-situs di atas menunjukkan adanya kegiatan manusia dan aktifitas mereka pada masa itu.

2.      Dari Berburu, Meramu sampai Bercocok Tanam
Dalam masa prasejarah Indonesia, corak kehidupan dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan (food gathering) dibagi menjadi dua masa, yaitu masa berburu dan mengumpulkan atau meramu makanan tingkat sederhana serta masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut. Pada masa tingkat sederhana manusia hidup secara berkelompok. Kelompok laki-laki melakukan perburuan, sedangkan kelompok perempuan mengumpulkan dan meramu makanan. Perburuan dilakukan dengan alat-alat yang masih sangat sederhana.
 Gambar Masa Berburu (sumber : http://museumpurbaonline.blogspot.com/2013/06/a-sosial-1.html)
a. Keadaan Lingkungan
Pada awalnya manusia purba hidup di padang terbuka. Alam sekitarnya merupakan tempat mereka mencari makanan. Mereka menyesuaikan diri terhadap alam sekitar untuk dapat mempertahankan hidup. Manusia purba yang hidup di daerah hutan dapat menghindarkan diri dari bahaya serangan binatang buas, terik matahari dan hujan. Mereka hidup berkelompok, tinggal di gua-gua atau membuat tempat tinggal di atas pohon besar. Manusia yang tinggal di gua-gua dikenal sebagai cavemen (orang gua). Dengan demikian, mereka sangat bergantung pada kebaikan alam; mereka cenderung pasif terhadap keadaan.
Kehidupan di dalam gua-gua pada masa ini menghasilkan lukisan-lukisan pada dinding-dinding gua yang (kemungkinan besar) menggambarkan kehidupan sosial-ekonomi mereka. Lukisan-lukisan pada dinding gua lain berupa cap tangan, babi dan rusa dengan panah dibagian jantungnya, gambar binatang melata, dan gambar perahu. Lukisan dinding gua antara lain ditemukan di Sulawesi Selatan, Irian Jaya, Kepulauan Kei, dan Pulau Seram.
b. Kehidupan Sosial
Kondisi alam sangat berpengaruh terhadap sifat dan fisik makhluk hidup tanpa kecuali manusia. Pola kehidupan manusia yang primitif sangat menggantungkan hidupnya pada ketersediaan alam, di mana daerah-daerah yang didiami harus cukup untuk memenuhi kebutuhannya, untuk kelangsungan hidup terutama di daerah yang cukup persediaan air. Temuan artefak pada Zaman Palaeolitikum menunjukkan bahwa manusia Pithecanthropus sudah mengenal perburuan dan menangkap hewan dengan cara yang sederhana.
Hewan yang menjadi mangsa perburuan adalah hewan yang berukuran besar, seperti gajah, sapi, babi atau kerbau. Saat perburuan, tentu diperlukan adanya kerja sama antarindividu yang kemudian membentuk sebuah kelompok kecil. Hasil buruannya dibagikan kepada anggota-anggotanya secara rata. Adanya keterikatan satu sama lain di dalam satu kelompok, yang laki-laki bertugas memburu hewan dan yang perempuan mengumpulkan makanan dan mengurus anak. Satu kelompok biasanya terdiri dari 10 – 15 orang.
Pada masa ini, manusia tinggal di gua-gua yang tidak jauh dari air, tepi pantai dan tepi sungai. Penangkapan ikan menggunakan mata panah atau ujung tombak yang berukuran kecil. Temuan-temuan perkakas tersebut antara lain kapak Sumatera (Sumatralith), mata panah, serpih-bilah dan lancipan tulang Muduk. Ini menunjukkan adanya kegiatan perburuan hewan-hewan yang kecil dan tidak membutuhkan anggota kelompok yang banyak atau bahkan dilakukan oleh satu orang. Dalam kehidupan berkelompok, satu kelompok hanya terdiri dari satu atau dua keluarga.
c. Budaya dan Alat yang Dihasilkan
Masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan ini lebih senang tinggal di gua-gua sebagai tempat berlindung. Mereka mulai membuat alat-alat berburu, alat potong, pengeruk tanah, dan perkakas lain. Pola hidup berburu membentuk suatu kebutuhan akan pembuatan alat dan penggunaan api. Kebutuhan ini membentuk suatu budaya membuat alat-alat sederhana dari batu, kayu, tulang yang selanjutnya berkembang dengan munculnya suatu kepercayaan terhadap kekuatan alam. Diduga, alat-alat ini diciptakan oleh manusia pithecanthropus dari zaman Paleolitikum, misalnya alat-alat yang ditemukan di Pacitan. Menurut H.R. von Heekeren dan R.P. Soejono, serta Basuki yang melakukan penelitian tahun 1953-1954, kebudayaan Pacitan merupakan kebudayaan tertua di Indonesia. Pada masa berburu dan meramu tingkat lanjut, ditemukan alat-alat dari bambu yang dipakai untuk membuat keranjang, membuat api, membuat anyaman dan pembakaran.
Selain di Pacitan, temuan sejenis terdapat pula di Jampang Kulon (Sukabumi), Gombong, Perigi, Tambang Sawah di Bengkulu, Lahat, Kalianda di Sumatera Selatan, Sembiran Trunyan di Bali, Wangka, Maumere di Flores, Timor-Timur (Timor Leste), Awang Bangkal di Kalimantan Timur, dan Cabbenge di Sulawesi selatan.
Hasil-hasil kebudayaan yang ditemukan pada masa berburu dan mengumpulkan makanan antara lain:
  1. Kapak perimbas : tidak memiliki tangkai dan digunakan dengan cara digenggam; diduga hasil kebudayaan Pithecanthropus Erectus. Kapak perimbas ditemukan pula di Pakistan, Myanmar, Malaysia, Cina, Thailand, Filipina, dan Vietnam.
Gambar Kapak perimbas (sumber : http://www.wacananusantara.org/kapak-perimbas/)
  1. Kapak penetak : bentuknya hampir sama dengan kapak perimbas, namun lebih besar dan masih kasar; berfungsi untuk membelah kayu, pohon, bambu; ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia.
 Gambar Kapak Penetak (Sumber : http://blog.gemafia.co.id/tag/kapak-penetak-runcing/)
  1. Kapak genggam : bentuknya hampir sama dengan kapak perimbas dan penetak, namun bentuknya lebih kecil dan masih sederhana dan belum diasah; ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia; digenggam pada ujungnya yang lebih ramping.
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjhyphenhyphenxCvJCb1F8Ei1NeoqGpLqQe45UkiUnPIqb8wW8MTAfrWwn410Let457CnBeAVgX9bqa9lIoUk-DJfvaO65wDlf1NN20qE3V7Ov5sdM2ZikYo_KGBx47AGRaHSgNr6TWo0zUb4unTIFE/s1600/kapak+GENGGAM.jpgGambar kapak genggan (sumber : http://emeraldkhatulistiwa.blogspot.com/2012/10/kekayaan-pra-sejarah-bangsa-indonesia_29.html)
  1. Pahat genggam : bentuknya lebih kecil dari kapak genggam; berfungsi untuk menggemburkan tanah dan mencari ubiubian untuk dikonsumsi.
Gambar Pahat Genggam (sumber : http://brainly.co.id/tugas/112575)
  1. Alat serpih atau flake : bentuknya sangat sederhana; berukuran antara 10 hingga 20 cm; diduga digunakan sebagai pisau, gurdi, dan penusuk untuk mengupas, memotong, dan menggali tanah; banyak ditemukan di goa-goa yang pernah ditinggali manusia purba.
 Gambar Flake (sumber : http://rennafa.blogspot.com/2014_04_01_archive.html)
  1. Alat-alat dari tulang : berupa tulang-belulang binatang buruan. Alat-alat tulang ini dapat berfungsi sebagai pisau, belati, mata tombak, mata panah; banyak ditemukan di Ngandong.
Description: http://www.wacananusantara.org/wp-content/uploads/2012/10/Alat-Tulang-349x300.jpgGambar Alat dari Tulang (Sumber : http://www.wacananusantara.org/alat-tulang-prasejarah/)
3.      Sistem Kepercayaan
Kepercayaan dalam masyarakat purba sudah tumbuh dan berkembang sejak dahulu. Salah satu aspek yang dapat dikaitkan dengan kepercayaan adalah berupa peninggalan-peninggalan megalitik. Kepercayaan pada masyarakat purba dibedakan menjadi animisme, dinamisme, totemisme dan Monoisme.

Ø  Animisme merupakan kepercayaan manusia purba terhadap  roh nenek moyang yang telah meninggal dunia. Menurut mereka, arwah nenek moyang selalu memperhatikan mereka dan melindungi, tetapi akan menghukum mereka juga kalau melakukan hal-hal yang melanggar adat. Dengan demikian, orang tua yang mengetahui dan menguasai adat nenek moyang akan menjadi pemimpin masyarakat. Penghormatan kepada nenek moyang dilakukan dengan pimpinan orang tua tersebut, yang diterima oleh masyarakat sebagai ketua adat.
Gambar Animisme (sumber : http://www.xenites.fr/wordpress/1119/la-horde-et-lanimisme/)

Ø  Dinamisme merupakan kepercayaan bahwa semua benda mempunyai kekuatan gaib, seperti gunung batu, dan api. Bahkan benda-benda buatan manusia diyakini juga mempunyai kekuatan gaib seperti patung, keris, tombak, dan jimat. Sesungguhnya proses pembuatan benda-benda megalitik, seperti menhir, arca, dolmen, punden berundak, kubur peti batu, dolmen semu atau pandhusa, dan sarkofagus dilandasi dengan kayakinan bahwa di luar diri manusia ada kekuatan lain. Dilandasi anggapan bahwa menhir atau arca, sebagai lambang dan takhta persemayaman roh leluhur, kedua jenis peninggalan itu digunakan sebagai sarana pemujaan terhadap roh nenek moyang. Dolmen dan punden berundak digunakan untuk tempat upacara. Pendirian punden berundak juga berdasarkan atas arah mata angin yang diyakini memiliki kekuatan gaib atau tempat-tempat yang dianggap sebagai tempat bersemayamnya roh nenek moyang.
 
sumber : http://joshuajollysc.wordpress.com/2012/02/10/kehidupan-masa-praaksara-di-indonesia/
Ø  Totemisme merupakan Kepercayaan atas dasar keyakinan bahwa binatang-binatang tertentu merupakan nenek moyang suatu masyarakat atau orang-orang tertentu. Binatang-binatang yang dianggap sebagai nenek moyang antara orang yang satu dengan orang atau masyarakat yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Biasanya binatang-binatang yang dianggap nenek moyang itu, tidak boleh diburu dan dimakan, kecuali untuk keperluan upacara tertentu.
 Gambar Totemisme (sumber : http://parasitaqidah.wordpress.com/2012/08/31/agama-primitif-totemisme/)
Ø  Monoisme adalah kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.Kepercayaan ini muncul berdasarkan pengalaman-pengalaman dari masyarakat.


Ø  PERKEMBANGAN TEKNOLOGI
1.      Antara Batu dan Tulang
Peralatan pertama yang digunakan oleh manusia purba adalah alat-alat dari batu dan tulang yg berkembang pada zaman paleolitikum atau zaman batu tua. dikatakan zaman batu tua karena hasil kebudayaan terbuat dari batu yang relatif masih sederhana dan kasar. kebudayaan zaman paleolitikum secara umum terbagi menjadi kebudayaan pacitan dan kebudayaan ngandong.

a. Kebudayaan Pacitan
Kebudayaan ini berkembang didaerah pacitan. beberapa alat dari batu ditemukan di daerah ini. alat batu itu masih kasar dan bentuk ujungnya agak runcing, tergantung kegunaannya.alat batu ini sering disebut kapak genggam dan kapak perimbas, digunakan untuk menusuk binatang atau menggali tanah saat mencari umbi-umbian. dipacitan  juga ditemukan alat yg disebut chopper sebagai alat penetak.

b. Kebudayaan Ngandong
Didaerah ini banyak ditemukan alat dari batu dan tulang yg berasal dari tulang binatang dan tanduk rusa yg  digunakan sebagai belati. disangiran jg ditemukan alat-alat dari batu yg indah seperti kalsedon. alat-alat ini sering disebut juga flakke.
Gambar Kalsedon (sember : http://www.lensaindonesia.com/2013/09/02/warga-pacitan-dilanda-demam-batu-kalsedon.html)


2.      Antara Pantai dan Gua
Zaman batu terus berkembang memasuki zaman batu tengah (mesolitikum). kebudayaan ini sudah lebih maju dan mengalami penyempurnaan dari zaman paleolitikum. kebudayaan ini dibagi menjadi kebudayaan kjokkenmoddinger dan abris sous roche.

a. Kebudayaan Kjokkenmoddinger
Kjokkenmoddinger istilah dari bahasa denmark, kjokken berarti dapur dan moddinger dapat diartikan sampah (sampah dapur). dalan kaitannya dng budaya manusia, kjokkenmoddinger merupakan tumpukan timbunan kulit siput dan kerang yg menggunung di sepanjang pantai sumatera timur antara langsa aceh sampai medan.
Gambar Kjokkenmoddinger (sumber : http://pendidikan4sejarah.blogspot.com/2011/11/pra-sejarah-mesolithikum-zaman-batu.html)

b.Kebudayaan Abris Sous Roche
Merupakan kebudayaan yg ditemukan di gua-gua. kebudayaan ini banyak ditemukan di besuki, bojonegoro, juga didaerah sulawesi selatan seperti di lamoncong.
 Gambar Abris Sous Roche (sumber : http://pendidikan4sejarah.blogspot.com/2011/11/pra-sejarah-mesolithikum-zaman-batu.html)

3.      Mengenal Api
Dari proses trial and error, yang memakan waktu ratusan bahkan ribuan tahun inilah terjadi perkembangan dan penyempurnaan pembuatan alat-alat yang digunakan, sehingga manusia menemukan bahan dasar pembuatan alat yang baik dan kuat serta hasilnya pun menjadi lebih baik. Dengan demikian tersusunlah pengetahuan know how. Dalam bentuk know how itulah penemuan-penemuan tersebut diwariskan kepada generasi-generasi selanjutnya. Perkembangan kebudayaan terjadi lebih cepat setelah manusia menemukan dan menggunakan api dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memanfaatkan api untuk menghangatkan tubuhnya, ketergantungan manusia akan iklim menjadi berkurang. Api kemudian juga digunakan untuk memasak dan perlengkapan dalam berburu. Di zaman yang lebih maju nantinya, arti api menjadi lebih penting. Pengetahuan tentang proses pemanasan dan peleburan merintis jalan pada pembuatan alat dari tembaga, perunggu dan besi. Dalam catatan sejarah misalnya, peralatan besi digunakan pertama kali di Irak abad ke-15 SM (Brouwer, 1982 : 6).
Gambar : Mengenal Api (sumber : http://sejarahindonesia2013.blogspot.com/2013/09/sejarah-mengenal-api.html)

4.      Sebuah Revolusi
Neolitikum sering dikatakan sebagai zaman revolusi budaya. Mengapa demikian? Karena pada zaman ini terjadi perubahan kebudayaan dari mengumpulkan makanan (food gathering) menjadi memproduksi makanan (food producing). Hal ini menunjukkan adanya kemajuan pesat dari kebudayaan sebelumnya pada masa Mesolitikum.
Pada zaman ini pula manusia sudah mulai mengenal cara bercocok tanam dan beternak untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka membakar hutan dan menanaminya dengan tanaman yang bisa dimakan seperti umbi-umbian. Mereka juga beternak untuk dimanfaatkan dagingnya demi memenuhi kebutuhan pangan mereka.
Mereka juga sudah mengenal tempat tinggal tetap. Mereka tidak lagi hidup secara nomaden untuk mendapatkan makanan. Mereka terdiri dari sebuah kelompok yang menghuni sebuah perkampungan yang tak beraturan. Dimulai dari kelompok kecil hingga membentuk sebuah perkampungan besar.
Namun mereka juga memiliki kendala. Mereka harus memikirkan bagaimana caranya bertahan di kondisi alam yang belum stabil. Apalagi ditambah dengan ancaman hewan buas yang dapat menyerang kapan saja. Sehingga mereka memiliki solusi yaitu tinggal di rumah panggung.

5.      Konsep Ruang Pada Hunian (Arsitektur)
Menurut Kostof, arsitektur telah mulai ada pada saat manusia mampu mengolah lingkungan hidupnya. Pembuatan tanda tanda di alam yang membentang tak terhingga itu untuk membedakan dengan wilayah lainnya. Tindakan untuk membuat tanda pada suatu tempat itu dapat dikatakan sebagai bentuk awal dari arsitektur. Pada saat itu manusia sudah mulai merancang sebuah tempat.
Bentuk arsitektur pada masa praaksara dapat dilihat dari tempat hunian manusia pada saat itu. Mungkin kita sulit membayangkan atau menyimpulkan bentuk rumah dan bangunan yang berkembang pada masa praaksara saat itu. Dari pola mata pencaharian manusia yang sudah mengenal berburu dan melakukan pertanian sederhana dengan ladang berpindah memungkinkan adanya pola pemukiman yang telah menetap. Gambar didinding gua tidak hanya mencerminkan kehidupan sehari-hari, tetapi juga kehidupan spiritual. Cap-cap tangan dan lukisan di tepi gua yang banyak ditemukan di Papua, Maluku, dan sulawesi Selatan dikaitkan dengan ritualpenghormatan atau pemujaan nenek moyang, kesuburan, dan inisiasi.
  Gambar cap tangan pada dinding gua (sumber : http://weekotwit.blogspot.com/2013/04/gua-prasejarah-leang-pettakere.html)
Gambar dinding yang tertera pada  gua-gua menggambarkan pada jenis binatang yang diburu atau binatang yang digunakan untuk membantu dalam pemburuan.
Bentuk pola hunian pada masa praaksara menggunakan penadah angin, menghasilkan pola menetap pada manusia masa itu. Pola hunian itu sampai saat ini masih digunakan oleh Suku Bangsa Punan yangtersebar di kalimantan. Bentuk hunian itu merupakan bagian bentuk awal arsitektur di luar tempat hunian di gua. Penadah angin merupakan suatu konsep tata ruangan yang secara implisit memberikan batas ruang. Pada kehidupan dengan masyaraakat berburu yang masih sangat bergantung pada alam, mereka lebih mengikut ritme dan bentuk geografis alam. Dengan demikian konsep ruang mereka masih kurang bersifat geometris teratur.



DAFTAR PUSTAKA
2014. Sejarah Indonesia (Edisi Revisi). Jakarta : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud



1 komentar: